Selamat memperingati Hari Kartini!
Hari Kartini diperingati setiap tahun pada 21 April. Tanggal ini dipilih berdasarkan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden atau Keppres Nomor 108 Tahun 1946 pada tanggal 2 Mei 1946. Tujuannya untuk mengenang jasa R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan.
Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini, ia merupakan tokoh perempuan asal Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, Kartini dikenal juga sebagai pelopor emansipasi wanita yang berjuang agar perempuan mendapatkan hak pendidikan yang setara dengan laki-laki, pada saat itu terutama wanita Jawa. Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda. Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikannya lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa pada saat itu dilarang mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda. Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan perjuangannya melalui mendidik anak perempuan dan perempuan. Lalu surat-surat Kartini diterbitkan di sebuah majalah Belanda, dan akhirnya, pada tahun 1991 menjadi karya, Habis Gelap Terbitlah Terang, Kehidupan Perempuan di Desa, dan Surat-Surat Putri Jawa. Yaitu kumpulan surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Belanda yang dibukukan menjadi simbol perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Selain untuk menyebarkan pemikiran Kartini, buku tersebut diterbitkan untuk mencari dana guna mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan Jawa. Dalam karya-karyanya, Kartini sering menggunakan nama samaran karena pada masa itu tidak mudah bagi perempuan pribumi untuk mempublikasikan tulisan secara terbuka. Meskipun Kartini wafat di usia muda yaitu 25 tahun cita-citanya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan tetap berlanjut. Sekolah Kartini pertama berdiri di Semarang pada tahun 1912/1913, yang kemudian diikuti oleh cabang di Surabaya, Yogyakarta, Malang, hingga Cirebon.
Selain hak-hak perempuan Kartini juga dikenal peduli terhadap pemeliharaan identitas dan nilai-nilai tradisional Indonesia. Ulang tahunnya sekarang dirayakan di Indonesia sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya, serta beberapa sekolah dinamai menurut namanya dan sebuah yayasan didirikan atas namanya untuk membiayai pendidikan anak perempuan bangsa Indonesia. Namanya kini dijadikan nama jalan di empat kota Belanda yaitu, Amsterdam, Utrecht, Haarlem, dan Venlo. Dan juga namanya diabadikan dalam beasiswa Kartini Sains oleh Kedutaan Besar Prancis untuk mendukung perempuan Indonesia yang ingin menempuh pendidikan master di bidang sains. Biasanya Hari Kartini di Indonesia dirayakan dengan berbagai kegiatan simbolis seperti, murid-murid di sekolah sering kali mengenakan kebaya atau pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia sebagai penghormatan, yang kedua mengadakan berbagai kompetisi seperti lomba membaca puisi, peragaan busana, hingga lomba memasak. Yang terakhir refleksi emansipasi yaitu menjadi momen bagi perempuan modern untuk terus menyuarakan hak-hak mereka dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Selamat memperingati Hari Kartini 2026, “Teruslah bermimpi jadi sesuatu yang ingin dituju, masa depan adalah milik kita sendiri.”
Commemorating Kartini Day
Happy Kartini Day!
Kartini Day is celebrated annually on April 21. This date was chosen to commemorate the birth of Raden Ajeng Kartini, an Indonesian women’s emancipation figure who was born on April 21, 1879, in Jepara, Central Java. This commemoration was established through Presidential Decree No. 108 of 1946 on May 2, 1946. The purpose is to commemorate R.A. Kartini’s service in fighting for educational rights and equality for women.
Raden Ajeng Kartini, also known as Raden Ayu Kartini, was a Javanese woman and Indonesian National Hero. Kartini is also known as a pioneer of women’s emancipation who fought for women to have equal rights with men, especially Javanese women at that time. She was born into a Javanese aristocratic family in the Dutch East Indies. After attending a Dutch-language elementary school, she wanted to continue her education, but Javanese women were prohibited from higher education at the time. She met various officials and influential people, including J.H. Abendanon, who was tasked with implementing the Dutch Ethical Policy. After her death, her sister continued her fight for the education of girls and women. Kartini’s letters were later published in a Dutch magazine, and finally, in 1991, became the work, Habis Gelap Terbitlah Terang (The Life of a Woman in the Village), and Surat-Surat Putri Jawa (Letters of a Javanese Princess). This collection of Kartini’s letters to her friends in the Netherlands, published as a symbol of the struggle for women’s emancipation in Indonesia. Besides spreading Kartini’s ideas, the book was published to raise funds to establish schools for Javanese women. In her works, Kartini often used pseudonyms because it was difficult for indigenous women to publish their writings openly at the time. Although Kartini died at the young age of 25, her dream of establishing a school for girls continued. The first Kartini School was established in Semarang in 1912/1913, followed by branches in Surabaya, Yogyakarta, Malang, and Cirebon.
In addition to women’s rights, Kartini was also known for her concern for preserving Indonesia’s identity and traditional values. Her birthday is now celebrated in Indonesia as Kartini Day in her honor, and several schools are named after her and a foundation was established in her name to finance the education of Indonesian girls. Streets in four Dutch cities are now named after her: Amsterdam, Utrecht, Haarlem, and Venlo. Her name is also immortalized in the Kartini Sains scholarship by the French Embassy to support Indonesian women who wish to pursue a master’s degree in science. Kartini Day in Indonesia is usually celebrated with various symbolic activities, such as students at school often wearing kebaya or traditional clothing from various regions in Indonesia as a tribute, and holding various competitions such as poetry reading competitions, fashion shows, and cooking competitions. Finally, the reflection of emancipation is a moment for modern women to continue to voice their rights and contribute to national development.
Happy Kartini Day 2026, “Keep dreaming of becoming what you want to be, the future is ours.”