Rock On

Selasa, 24 Maret 2026

Hari Peringatan Bandung Lautan Api

Memperingati Hari Peringatan Bandung Lautan Api
Selamat memperingati Hari Peringatan Bandung Lautan Api! 
Hari Peringatan Bandung Lautan Api diperingati setiap tanggal 24 Maret untuk mengenang aksi pembumihangusan Kota Bandung oleh rakyat dan pejuang pada 24 Maret 1946. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah Tentara Sekutu dan NICA Belanda menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer, menjadikannya simbol pengorbanan dan patriotisme mempertahankan kemerdekaan. Ultimatum Sekutu yaitu, pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945, mereka menuntut agar semua senjata api yang digunakan dalam perang di tangan penduduk, kecuali Tentara Keamanan Rakyat atau TKR diserahkan kepada mereka, dan Bandung Utara dikosongkan pada akhir November 1945. Ultimatum kedua, Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar Tentara Republik Indonesia atau TRI meninggalkan seseluruh Kota Bandung sejauh 11km dari pusat kota yang memicu kemarahan pejuang.
 Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan atau MP3 di hadapan semua kekuatan pada tanggal 23 Maret 1946, dipimpin oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot di sebelah selatan Bandung, dimana terdapat gudang amunisi besar miliki Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan, dua anggota milisi Barisan Rakyat Indonesia atau BRI terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil menghancurkan gudang amunisi itu dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 12 Malam, Bandung selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Namun api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
 Pembumihangusan Bandung tersebut di anggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Peristiwa ini menginspirasi Ismail Marzuki beserta para pejuang Indonesia saat itu untuk mengubah dua baris terakhir dari lirik lagu Halo, Halo Bandung menjadi lebih patriotis dan membakar semangat perjuangan. Beberapa tahun kemudian lagu Halo, Halo Bandung menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api. Untuk mengenang peristiwa ini, didirikan Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega, Bandung.

Selamat memperingati Hari Peringatan Bandung Lautan Api 2026, “Api Bandung Lautan Api tak hanya membakar kota, tapi juga membakar semangat juang rakyat.”

Commemorating Bandung Sea of Fire Rememberance day
Happy Bandung Sea of Fire Commemoration Day!
Bandung Sea of Fire Commemoration Day is celebrated every March 24 to commemorate the action of burning down the city of Bandung by the people and fighters on March 24 1946. This action was taken to prevent the Allied Forces and the Dutch NICA from using Bandung as a strategic military base, making it a symbol of sacrifice and patriotism to defend independence. Allied ultimatum, namely, British troops part of the MacDonald Brigade arrived in Bandung on 12 October 1945, they demanded that all firearms used in the war be in the hands of the population, except for the People's Security Army or TKR be handed over to them, and North Bandung was vacated at the end of November 1945. The second ultimatum, the Allies again issued an ultimatum for the Indonesian Republic Army or TRI to leave the entire city of Bandung as far as 11km from the city center which sparked the anger of the fighters. The decision to burn Bandung to the ground was taken through the Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan or MP3 deliberation in front of all forces on March 23 1946, led by Colonel Abdoel Haris Nasoetion as commander of Division III TRI announcing the results of the deliberation and ordering the evacuation of Bandung City. That same day a large group of Bandung residents made a long stream leaving the city of Bandung and that night the burning of the city took place. Bandung was deliberately burned by TRI and local people with the intention that the Allies could not use Bandung as a strategic military base. The British army began to attack so fierce fighting occurred. The biggest battle took place in Dayeuhkolot Village south of Bandung, where there was a large ammunition depot belonging to the Allied Army. In this battle, Muhammad Toha and Muhammad Ramdan, two members of the Barisan Rakyat Indonesia or BRI militia, took part in a mission to destroy the ammunition depot. Muhammad Toha managed to destroy the ammunition warehouse with dynamite. The large warehouse exploded and burned with the two militiamen inside. Bandung city government staff will initially remain in the city, but for their safety, at 21.00 they will also join the group evacuating from Bandung. Since then, at approximately 12 o'clock at night, South Bandung has been empty of residents and TRI. However, the fire was still burning, burning the city, so that Bandung became a sea of fire.
The scorched earth of Bandung was considered the right strategy in the Indonesian War of Independence because the strength of the TRI and people's militias was not comparable to the large strength of the Allies and NICA. This event inspired Ismail Marzuki and the Indonesian fighters at that time to change the last two lines of the lyrics of the song Halo, Halo Bandung to be more patriotic and ignite the spirit of struggle. Several years later the song Halo, Halo Bandung became a memory of the emotions that the freedom fighters of the Republic of Indonesia experienced at that time, waiting to return to their beloved city which had become a sea of fire. To commemorate this event, the Bandung Sea of Fire Monument was erected in Tegallega Square, Bandung.
 
Happy Bandung Sea of Fire Commemoration Day, "The Bandung Sea of Fire fire not only burned the city, but also burned the people's fighting spirit."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar