Rock On

Kamis, 18 Mei 2023

ISA AL-MASIH 2023

              Hari Kenaikan Isa Almasih

Selamat Memperingati Hari Kenaikan Isa Almasih

   Peristiwa Kenaikan Isa Almasih atau Kenaikan Yesus Kristus merupakan suatu peristiwa Yesus Kristus naik ke surga pada hari ke-40 setelah Kebangkitan-Nya, di mana perayaan Paskah atau peristiwa kebangkitan Yesus Kristus menjadi hari pertama. Perayaan Kenaikan Isa Almasih atau Yesus Kristus selalu dirayakan selama 40 hari setelah Paskah, baik Kristen di Timur maupun Barat sudah melakukannya sejak abad ke-4. Pada waktu itu, peristiwa Kenaikan Yesus Kristus ditandai dengan adanya perayaan turunnya Roh Kudus yang dikenal dengan hari Pentakosta. Bagi umat Kristen dan Katolik, makna kenaikan Yesus Kristus ke Surga adalah sebagai pemuliaan Yesus setelah kematian dan kebangkitan-Nya.

   Menurut Injil Yohanes, hal ini sebagai penampakan pasca kebangkitan-Nya untuk menunjukkan hubungan yang baru antara Yesus dan Bapa, serta antara Dia dan para pengikutnya, daripada relokasi fisik sederhana dari bumi ke surga. Kenaikan Yesus Kristus merupakan peristiwa yang terjadi 40 hari setelah Kebangkitan Yesus, yang disaksikan oleh murid-murid-Nya. Yesus Kristus terangkat naik ke langit, lalu hilang dari pandangan setelah tertutup awan seperti yang dicatat dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab. Gereja Katolik mengimani Hari Kenaikan Tuhan ini sebagai penebusan janji Yesus Kristus. Dari peristiwa Kenaikan Isa Almasih ini, maka Yesus Kristus mengajarkan murid-muridnya agar tidak lagi terpaku pada kehadiran fisik-Nya. Yesus akan selalu bersama dengan para umatnya melalui Roh Kudus. Dari sinilah, Yesus Kristus mendorong para murid-murid atau umat-Nya untuk memulai misi, yaitu mewartakan Injil.

   Biasanya di hari Kenaikan, umat Kristen dan Katolik beribadah di gereja serta menyanyi nyanyian pujian dan syukur. Sebab hari Kenaikan ini menandakan Yesus naik ke surga. Di beberapa negara, biasanya perayaan Hari Kenaikan Isa Almasih banyak orang mengambil libur panjang di akhir pekan. Bahkan beberapa toko dan jalanan bisa sepi. Bahkan di Jerman, biasanya hari kenaikan ini dirayakan oleh mayoritas laki-laki yang mengadakan jalan-jalan yang dikenal sebagai herrenpartien. Sementara itu, di Swedia, banyak orang berbondong-bondong pergi ke hutan pada pukul 3 atau 4 pagi untuk mendengarkan burung-burung saat matahari terbit. Perjalanan ini disebut gökotta. Di Inggris, Hari Kenaikan dikaitkan dengan berbagai festival air mulai dari Well Dressing di Derbyshire hingga Penanaman “Penny Hedge” di Whitby, sebuah kota kecil di Yorkshire. Sedangkan di Indonesia sendiri, perayaan dirayakan di gereja. Setiap negara memiliki perayaan Kenaikan Isa Almasih yang sangat menarik, ya.



                Happy Acsension day!

Acsension day of Isa Almasih
Happy Acsension Day

   The Ascension of Jesus Christ Christ is an event of Jesus Christ ascending to heaven on the 40th day after His Resurrection. After His Resurrection, where the celebration of Easter or there surrection of Jesus Christ is the first day.Jesus Christ being the first day. The celebration of the Ascension of Jesus Christ has always been celebrated for 40 days after Easter, both Eastern and Western Christians have done so since the 4th century. And the West have been doing so since the 4th century. At that time, the Ascension of Jesus Christ was marked by the celebration of the descent of the Holy Spirit, known as Pentecost. Known as the day of Pentecost. For Christians and Catholics, the meaning of the Ascension Jesus Christ to Heavenis the glorification of Jesus after His death and resurrection. His resurrection.

   According to the Gospel of John, this is a post-resurrection appearance to show a new relationship. Resurrection to show the new relationship between Jesus and the Father,And between him and his followers, rather than a simple physical relocation from earth to heaven. Earth to heaven. The Ascension of Jesus Christ was an event that occurred 40 days After the Resurrection of Jesus, which was witnessed by His disciples.Jesus Christ Was lifted up into the sky, then disappeared from sight after being covered by clouds As recorded in the New Testament portion of the Bible. Catholic Church Believes in this Ascension Dayas the redemption of the promise of Jesus Christ. From Ascension of Jesus Christ, Jesus Christ taugh this disciples to no longer be fixated on his physical presence. Jesus will Always be with his people through the Holy Spirit. From here, Jesus Christ encourages His disciples or people to start a mission, namely Proclaiming the Gospel.

   Usually on Ascension Day, Christians and Catholics worship in church and sing hymns of praise and thanksgiving. In church and sing songs of praise and gratitude. Because this Ascension day Signifies Jesus ascending to heaven. In some countries, usually the celebration of Ascension Day, many people take a long weekend off. Even some shops and streets can be deserted. Even in Germany, this ascension day is usually Is celebrated by a majority of men who organize outings known as herrenpartien. Meanwhile, in Sweden, many people Flock to the forest at 3 or 4 am to listen to the birds as the sun rises. Birds at sunrise. This trip is calledgökotta. In the UK,Ascension Day is associated with various water festivals ranging fromWell Dressing In Derbyshire to the “Penny Hedge” Planting in Whitby, a small town in Yorkshire. While in Indonesia it self, the celebration is celebrated in the church. Every Country has a very interesting Ascension celebration, yes.

Senin, 01 Mei 2023

HARI BURUH 2023

               Hari Buruh Internasional

   Hari Buruh Internasional diperingati pada tanggal 1 Mei, juga dikenal dengan sebutan May Day. Hari buruh ini adalah sebuah hari libur (di beberapa negara) tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh.

    Sejarah Hari Buruh
    Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

   Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja pada era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

   Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur.

   McGuire menjadi terkenal dengan sebutan pengganggu ketenangan masyarakat.Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America.

   Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur. Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi.

   Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya. Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

   Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

   Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Kongres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif pada era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

   Peristiwa Haymarket
   Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.Pada tanggal 4 Mei 1886.

   Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

   Kongres Sosialis Dunia
   Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi yang berisi: Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.

   Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

   Selamat Memperingati Hari Buruh!
   Internasional 1 Mei!
   “Bangsa yang besar yaitu bangsa yang menghargai buruh.”



                International Labor Day

   International Labor Day is celebrated on May 1, also known as May Day. Labor Day is an annual holiday (in some countries) that stems from the efforts of the trade union movement to celebrate the economic and social success of workers.

   History of Labor Day
   Labor Day was born from a series of struggles of the working class to gain political-economic control over industrial rights. The development of industrial capitalism in the early 19th century marked drastic changes, especially in the capitalist countries of Western Europe and the United States. The tightening of discipline and the intensification of working hours, the lack of wages, and the poor working conditions at the factory level, created resistance from the working class.

   The first strike of the working class of the United States took place in 1806 by Cordwainers workers. This strike brought its organizers to court and also brought to light the fact that the working class of that era worked from 19 to 20 hours a day. Since then, the struggle to demand reduced working hours has been on the common agenda of the working class in the United States.

   Two people are thought to have contributed to the idea of honoring workers, Peter McGuire and Matthew Maguire, a machine worker from Paterson, New Jersey. In 1872, McGuire and 100,000 workers went on strike to demand reduced working hours. McGuire then proceeded to talk to workers and the unemployed, lobbying the city government to provide jobs and overtime pay. McGuire became known as a disturbance of the public peace. In 1881, McGuire moved to St. Louis, Missouri and started to organize carpenters. Eventually a union of carpenters was formed in Chicago, with McGuire as General Secretary of the United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America.

   The idea of organizing workers according to their areas of expertise then spread throughout the country. McGuire and workers in other cities planned a day off for workers on the First Monday of September between Independence Day and Thanksgiving. On September 5, 1882, the first Labor Day parade was held inNew York City with 20,000 participants banners saying 8 hours of work, 8 hours of rest, 8 hours of recreation.

   Maguire and McGuire played an important role in organizing this parade. In the following years, this idea spread and all states celebrated it. In 1887, Oregon became the first state to make it a public holiday. In 1894. President Grover Cleveland signed a law making the first Sunday of September an official national public holiday.

   The First International Congress was held in September 1866 in Geneva, Switzerland, attended by various elements of workers’ organizations around the world. This congress passed a demand for reducing working hours to eight hours a day, which had previously (still in the same year) been carried out by the National Labor Union in the US: the working class throughout the world.

   One May was designated as the day of the struggle of the world working class at the 1886 Congress by the Federation of Organized Trades and Labor Unions to, in addition to providing a moment of demands for eight hours a day, to provide a new spirit for the struggle of the working class which reached a massive point in that era. May 1 was chosen because in 1884 the Federation of Organized Trades and Labor Unions, Inspired by the success of the Canadian labor movement of 1872, demanded an eight- hour workday in the United States and came into force on May 1, 1886.

   Haymarket events
   On May 1, 1886, about 400,000 workers in the United States staged a massive demonstration to demand that their working hours be reduced to 8 hours a day. This action lasted for 4 days from May 1. On May 4, 1886.

   The demonstrators carried out a large- scale march, the American police then shot at the demonstrators so that hundreds of people were killed and the leaders were arrested and sentenced to death, the workers who died were known as martyr. Prior to the May 1 incident, in various countries, there were also labor strikes to demand fairer treatment from the owners of capital.

   World Socialist Congress
   In July 1889, the World Socialist Congress held in Paris established the event in the US on May 1 as world labor day and passed a resolution which read: A major international action must be organized on one particular day in which all countries and cities at the same time Simultaneously, on one mutually agreed day, all workers demanded that the government legally reduce working hours to 8 hours per day, and implement all the results of the French International Labor Congress. This resolution received warm welcome from various countries and since 1890, May 1, which is termed May Day, is commemorated by workers in various countries, despite strong pressure from their governments.

   Happy Commemorating May 1 International Labor Day!
   “A great nation is a nation that values labor.”


Jumat, 21 April 2023

HARI KARTINI 2023

   Peringatan Hari Raden Ajeng (R.A) Kartini 

   Selamat Memperingati Hari R.A Kartini!  
                                                             
   Hari Kartini dirayakan setelah pada 2 Mei 1964 Presiden Soekarno Mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 Tentang Penetapan Kartini Sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Raden Ajeng Kartini menjadi salah satu sosok penting dalam perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Tanggal 21 April yang juga merupakan hari lahir perempuan asal Jepara, Jawa Timur ini diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Kartini.

   Sejarah Tentang Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini)                                                        
   Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) lahir di Kota Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ia adalah putri dari salah seorang bangsawan bernama Raden Mas (R.M.) Sosroningrat yang menikah dengan wanita desa, Mas Ajeng Ngasirah. Pada tahun 1885, Kartini bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) atau setara dengan Sekolah Dasar (SD). Anak pribumi Indonesia yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS, hanya yang orang tuanya merupakan pejabat tinggi pemerintah.

    Bahasa pengantar di ELS adalah bahasa Belanda, sehingga Kartini bisa meningkatkan kemampuan bahasanya. Namun, Kartini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya karena ditentang oleh sang Ayah. Ia dipaksa untuk menjadi putri bangsawan dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku. Kemudian, ia banyak menghabiskan waktu di rumahnya. 

   Kartini yang selalu di rumah atas keinginan Ayahnya, akhirnya mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan untuk dibacanya di taman rumah. Kartini jadi gemar membaca dan sering bertanya kepada Ayahnya. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda) yang waktu itu masih menjajah Indonesia. Lalu, muncul keinginan Kartini untuk memajukan kehidupan wanita Indonesia. 

   Baginya, wanita tidak hanya di dapur, tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia mulai mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Di tengah kesibukannya, ia tidak berhenti membaca dan menulis surat kepada teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Kartini sempat menulis surat kepada Mr.J.H Abendanon dan memohon agar diberikan beasiswa untuk bersekolah di Belanda.

   Namun, beasiswa tersebut tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah, Kartini harus ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mendukung keinginan Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. 

   Kartini melahirkan seorang anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, pada tanggal 13 September 1904. Namun, tidak lama setelah melahirkan, Kartini meninggal di usia 25 tahun pada 17 September 1904 dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.                 

   Pada tahun 1912, Yayasan Kartini mendirikan Sekolah Wanita yang bernama "Sekolah Kartini". Sekolah tersebut tersebar di beberapa daerah, seperti:       
● Semarang                                                      ● Surabaya                                                        ● Yogyakarta                                                    ● Malang                                                          ● Madiun                                                          ● Cirebon            
                                                                     
   Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul "DOOR DUISTERNIS TOT LICHT" yang artinya "Habis Gelap Terbitlah Terang". 

   Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Kartini, pemerintah menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Tanggal 21 April bertepatan dengan hari lahir Kartini.                                                                   
● Kartini menulis surat berisi ide-idenya tentang perempuan Jawa kepada teman-temanya di EROPA.                                        
● Setelah Kartini wafat pada 17 September 1904, surat-surat Kartini di kumpulan dan di terbitkan jadi  sebuah buku yang berjudul DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA -1911-.           
● Pada 1922, balai pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran.                           
● Pada 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang Versi Armijn Pane, Seorang sastrawan

   Selamat Memperingati Hari Kartini!

   “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.





   Commemoration of Raden Ajeng (RA) Kartini Day

   Happy Commemorating RA Kartini Day! 

   Kartini Day is celebrated after, on May 2, 1964, President Soekarno issued Presidential Decree No. 108 of the Republic of Indonesia concerning the designation of Kartini as a Hero of National Independence. Raden Ajeng Kartini became an important figure in the struggle for women’s emancipation in Indonesia. April 21, which is also the birthday of this woman from Jepara, East Java, is celebrated every year as Kartini Day.

   History of Raden Ajeng Kartini (RA Kartini) 

    Ajeng Kartini (RA Kartini) was born in Jepara City, Central Java, on April 21, 1879. She was the daughter of a nobleman named Raden Mas (RM) Sosroningrat, who married a village woman, Mas Ajeng Ngasirah. In 1885, Kartini attended school at the Europesche Lagere School (ELS) or the equivalent of an elementary school (SD). Only indigenous Indonesian children whose parents are high-ranking government officials are allowed to attend school at ELS. 

   Language of instruction in ELS is Dutch, so Kartini could improve her language skills. However, Kartini could not continue her education to the next level because of her father’s opposition. She was forced to become a noble’s daughter by following the prevailing customs. After that, he spends a lot of time at home. 

   Kartini, who was always at home on her father’s wish, finally collected textbooks and science books to read in the garden of the house. Kartini became fond of reading and often asked her father. Kartini was interested in the progress of European (Dutch) women’s thinking, which at that time was still colonizing Indonesia. Then, Kartini’s desire to advance the lives of Indonesian women emerged.

   For him, women are not only in the kitchen but also must have knowledge. He began to collect his female friends to teach writing and other sciences. In the midst of his busy life, he did not stop reading and writing letters to his friends in the Netherlands. Kartini had written a letter to Mr. JH Abendanon and begged to be given a scholarship to study in the Netherlands.

   However, Kartini could not take advantage of this scholarship because her parents married her to Raden Adipati Joyodiningrat. After marriage, Kartini had to follow her husband to the Rembang area. Her husband supported Kartini’s wish to establish a girls’ school east of the gate of the Rembang district office complex or in a building that is now used as the Pramuka building.

   Kartini gave birth to a child named Soesalit Djojoadhiningrat on September 13, 1904. However, not long after giving birth, Kartini died at the age of 25 on September 17, 1904, and was buried in Bulu Village, Bulu District, Rembang. In 1912, the Kartini Foundation established a women’s school called “Kartini School.” These schools are scattered in several areas, such as:  
• Semarang  
• Surabaya  
• Yogyakarta  
• Malang  
• Madiun  
• Cirebon

   Kartini died, and Mr. JH Abendanon collected and recorded the letters that RA Kartini had sent to her friends in Europe. The book was entitled “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT,” which means “Out of Darkness Comes Light.” As a sign of respect for Kartini’s services, the government designated April 21 as Kartini Day. 

   April 21 coincides with Kartini’s birthday. Kartini wrote letters containing her ideas about Javanese women to her friends in Europe. After Kartini died on September 17, 1904, Kartini’s letters were collected and published into a book entitled FROM DARK TO LIGHT (1911). In 1922, the library published the book in Malay with the title After Darkness, Rising Light: Boeah Mind. 

   In 1938, Out of Darkness Comes Light Version of Armijn Pane, a writer

   Happy Commemorating Kartini’s Day!

    “OUT OF THE DARK, THERE IS LIGHT.”


Minggu, 16 April 2023

HUT KOPASSUS 71

            HUT Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS)

   Selamat Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-71 Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS).

   Pada tanggal 16 April diperingati berdirinya satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Indonesia. Kopassus merupakan satu pasukan khusus milik TNI Angkatan Darat. Kopassus adalah prajurit yang mampu menguasai berbagai macam taktik dan teknik ilmu perang khusus, mahir, serta handal dan bergerak secara cepat di berbagai medan, baik itu medan darat, laut, dan udara.

   Kopassus memiliki jiwa patriotik yang tinggi serta senantiasa bersedia melaksanakan tugas pokok dan siap menghadapi berbagai ancaman, gangguan hambatan dan tantangan NKRI berdasarkan Pancasila. Prajurit Kopassus dikenal sebagai “Pasukan Baret Merah” karena atribut baret merah yang mereka gunakan. Baret itu dilengkapi lambang Tribuana Candraca Satya Dharma yang berarti prajurit yang telah menguasai taktik dan teknik ilmu perang khusus, mahir dan andal bergerak secara cepat di berbagai medan. Moto Kopassus adalah “Lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga”.

   Pada bulan Juli 1950, muncul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Republik Maluku Selatan (RMS). Saat itu, Pimpinan Angkatan Perang RI segera mengerahkan pasukan untuk menumpas gerombolan tersebut. Operasi itu dipimpin oleh Panglima Tentara Teritorium III Kolonel A.E Kawilarang, sedangkan komandan operasinya ditunjuk Letkol Slamet Riyadi.

   Operasi tersebut berhasil menghancurkan pemberontakan tersebut, namun banyak anggota TNI yang gugur. Setelah melakukan pengkajian pada beberapa pertempuran, disimpulkan bahwa musuh dengan kekuatan relatif lebih kecil mampu menggagalkan serangan TNI yang kekuatannya jauh lebih besar. Hal ini dikarenakan semangat pasukan musuh yang lebih tinggi dan perlengkapannya lebih lengkap disertai taktik, gerakan perorangan, dan pengalaman tempur yang baik didukung oleh kemampuan tembak tepat.

   Akhirnya, Letkol Slamet Riyadi mempelopori pembentukan suatu satuan prajurit yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran, sekalipun di medan yang berat. Namun, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam satu pertempuran di kota Ambon, kemudian gagasan itu dilanjutkan oleh Kolonel A.E Kawilarang. Lalu, pada 16 April 1952, dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang merupakan cikal bakal Kopassus melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III Nomor 55/Instr/PDS/52.

   Komandan pertama yang memimpin satuan ini adalah Mayor Moch Idjon Djanbi, mantan Kapten KNIL atau tentara kerajaan Hindia Belanda yang pernah bergabung dengan Korps Speciale Troopen dan pernah bertempur di Perang Dunia II.

   Satuan komando ini sempat beberapa kali berganti nama, antara lain:
1. Tahun 1952, Kesatuan Komando Teritorium III berganti jadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD).
2. Tahun 1953, nama itu diubah menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).
3. Tahun 1955, kembali berganti jadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).
4. Tahun 1966, satuan ini kembali berganti nama menjadi Pusat Pasukan Khusus TNI AD
(PUSPASUS TNI AD).
5. Tahun 1971, berganti jadi Komando Pasukan Sandhi Yudha (KOPASSANDHA).

   Selamat Memperingati Hari Ulang Tahun Komando Pasukan Khusus Ke-71 (HUT KOPASSUS Ke-71)

   “Kopassus Ku, Kopassus Kita, Kopassus Patriot, dan Kopassus untuk Indonesia”.



    Commemorating troop command day

   Congratulations commemorating the 71st Anniversary of the special forces Command (HUT KOPASSUS Anniversary)

   Commemorating the establishment of the Special Forces Command (Kopassus) unit in Indonesia on April 16. Kopassus is one of the special forces of the Indonesian Army.What is Kopassus? Kopassus is a soldier who is able to master various kinds oftactics and techniques of special warfare, proficient, reliable and fast-moving in a variety of terrains, be it land, sea or air. Various terrains, be it land, sea, and air.

   Kopassus has a high patriotic spirit patriotic spirit and is always willing to carry out its main tasks and is ready to face various threats, obstacles and challenges of the Republic of Indonesia. Threats, obstacles and challenges of the Republic of Indonesia based on Pancasila. Kopassus soldiers are known as the “Red Beret Troops” because of the red beret they wear. The beret is equipped with the Tribuana Candraca Satya Dharma symbol, which means soldiers who have mastered the tactics and techniques of warfare science.have mastered the tactics and techniques of special warfare science, are proficient and riliable in moving quickly in various terrains. Kopassus’ motto is “It is better to go home with a name than to fail on the field of battle”.

   On July 1950, a rebellion arose in Maluku by a group calling itself the Republic of South
Maluku (RMS). The operation was led by the Commander of Territorial Army III Colonel A.E. Kawilarang, while the operation commander was Lieutenant Colonel Slamet Riyadi.

   The operation succeeded in crushing the rebellion, but many TNI members died.After conducting a study of several battles, it was concluded that the enemy with relatively smaller forces was able to thwart TNI attacks whose strength was much greater. This was due to the higher morale of the enemy troops and more complete equipment accompanied by good tactics, individual movements, and combat experience supported by the ability to shoot accurately. Finally, Lieutenant Colonel Slamet Riyadi pioneered the formation of a soldier unit that could be moved quickly and precisely to face various targets, even in heavy terrain.

   However, Lieutenant Colonel Slamet Riyadi died in a battle in the city of Ambon, then the idea was continued by Colonel A.E Kawilarang.Then, on April 16, 1952, the Territorial Command Unit III was formed which was the forerunner of Kopassus through the Instruction of the Commander of the Army and Territorial III Number55/Instr/PDS/52.

   The first commander to lead this unit was Major Moch Idjon Djanbi, a former KNIL Captain or Dutch East Indies royal army who had joined the Speciale Troopen Corps and had fought in World War II.
   
   The commando unit changed its name several times, including:
1. On 1952, the Territorial Command Unit III changed to the Army Commando Regiment (RPKAD).
2. On 1953, the name was changed to the Army Commando Unit (KKAD).
3. On 1955, it was again changed to the Army Commando Regiment (RPKAD).
4. On 1966, this unit again changed its name to the Special Forces Center of the Indonesian Army (PUSPASUS TNI AD).
5. On 1971, it changed to Komando Pasukan Sandhi Yudha.

   Congratulations commemorating the 71st Anniversary of the special forces Command (HUT KOPASSUS Anniversary)

   ”My kopassus,Our kopassus,Kopasuas Patriot,and kopassus for Indonesia”.

Jumat, 24 Maret 2023

BANDUNG LAUTAN API

               Hari Bandung Lautan Api

Selamat Memperingati Hari Bandung Lautan Api!

   Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung.

   Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara Netherlands Indies Civiele Administration (NICA) milik Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. (1) Peristiwa kekacauan diawali oleh pihak Belanda, pada malam tanggal 24 November 1945, TRI dan badan-badan perjuangan lainnya meluncurkan serangan kepada markas-markas Sekutu di Bandung bagian utara, termasuk Hotel Homan dan Hotel Preanger yang menjadi markas besar Sekutu.

   Dilanjutkan dengan (2) Ultimatum oleh Sekutu untuk Warga Bandung Tiga hari setelah penyerangan markas Sekutu, Brigade MacDonald menyampaikan ultimatumnya kepada Gubernur Jawa Barat agar segera mengosongkan wilayah Bandung Utara oleh seluruh warga Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. Kebijakan dalam ultimatum tersebut meliputi: 
 • Ultimatum tersebut harus dilaksanakan selambat-lambatnya pukul 12.00 pada tanggal 29 November 1945. 
 • Sekutu menjadikan kota Bandung Utara menjadi wilayah kekuasaan mereka, sedangkan Bandung Selatan di bawah kekuasaan pemerintah RI. 

   Ultimatum tersebut dijawab pasukan Indonesia dengan mendirikan pos – pos gerilya di berbagai tempat. Memasuki awal tahun 1946, pertempuran antara Sekutu dengan para TRI semakin memanas. Kemudian dilanjutkan (4) Peringatan Ultimatum Kedua oleh Sekutu Pada tanggal 23 Maret 1946, Sekutu menyampaikan ultimatum kedua kepada Perdana Menteri Syahrir agar Bandung dikosongkan selambat-lambatnya sebelum pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946.

   Pasukan Indonesia diharapkan meninggalkan Bandung Selatan sejauh 10 sampai 11 kilometer dari pusat kota. Jenderal Mayor Nasution menolak ultimatum tersebut sebab sangat mustahil memindahkan ribuan pasukan dalam waktu singkat. Dalam pertemuan Nasution dengan para Komandan TRI serta aparat pemerintahan, dicapai kesepakatan untuk membumihanguskan Bandung sebelum kota itu ditinggalkan. (5) Lokasi-lokasi di Bandung yang dibakar menurut rencana, Bandung akan dikosongkan pada tanggal 24 Maret pukul 00.00. Ternyata, pembakaran dilaksanakan lebih awal yakni pukul 21.00.

   Setelah peristiwa pembakaran, masyarakat secara resmi meninggalkan kota Bandung. Di samping itu, bangunan-bangunan yang diledakkan adalah: Bank Rakyat di Bandung, Kawasan Banceuy, Kawasan Cicadas, Kawasan Braga, Kawasan Tegalega, Asrama Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumi-hangusan tersebut.

   Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.

Selamat Memperingati Hari Peristiwa Bandung Lautan Api!

“KOBARKAN SEMANGAT PERSATUAN & PATRIOTISME”.




              Bandung Sea of Day!

Happy Commemorating Bandung Sea of Fire Day!

   The Bandung Lautan Api (BLA) incident was a major fire incident that occurred in the city of Bandung, West Java province, Indonesia, on March 24, 1946. Within seven hours, around 200,000 Bandung residents burned their homes, leaving the city for the mountains south of Bandung.

   This was done to prevent the Allied troops and Dutch Indies Civil Administration (NICA) troops from being able to use the city of Bandung as a strategic military base in the Indonesian War of Independence. (1) The chaos was initiated by the Dutch. On the night of November 24, 1945, TRI and other struggle agencies launched an attack on the Allied headquarters in northern Bandung, including the Homan Hotel and the Preanger Hotel, which became the Allied headquarters. 

   Followed by (2) an ultimatum by the allies for the residents of Bandung. Three days after the attack on the Allied headquarters, the MacDonald Brigade delivered its ultimatum to the Governor of West Java, ordering all Indonesian citizens, including the armed forces, to immediately vacate the North Bandung area. The policies in the ultimatum included: 
• The ultimatum had to be implemented no later than noon on November 29, 1945
• The Allies made the city of North Bandung their territory, while South Bandung was under the control of the Indonesian government. 

   The Indonesian troops responded to the ultimatum by setting up guerilla posts in various places. As we entered the beginning of 1946, the battle between the Allies and the TRIs was heating up. Then it continued: "Commemoration of the Second Ultimatum by the Allies." On March 23, 1946, the Allies delivered a second ultimatum to Prime Minister Syahrir, requesting that Bandung be evacuated no later than 24 o'clock on March 24, 1946.

   Indonesian troops were expected to leave South Bandung as far as 10 to 11 kilometers from the city center. General Major Nasution rejected the ultimatum because it was impossible to move thousands of troops in such a short time. In Nasution's meeting with TRI commanders and government officials, an agreement was reached to burn Bandung down before the city was abandoned. Five (5) locations in Bandung that are burned according to the plan will be vacated on March 24 at 00.00. The burning was carried out earlier, namely at 21.00.

   After the burning incident, the community officially left the city of Bandung. In addition, the buildings that were blown up were: the People's Bank in Bandung, the Banceuy Area, the Cicadas Area, the Braga Area, the Tegalega Area, and the Indonesian People's Army (TRI) Dormitory. The term "Bandung Lautan Api" became a well-known term after the scorched-earth incident. 

   General A.H. Nasution was the TRI General who, during a meeting at Regentsweg (now Jalan Dewi Sartika), after returning from his meeting with Sutan Sjahrir in Jakarta, decided on the strategy to be carried out against the City of Bandung after receiving the British ultimatum.

Happy Commemorating the Day of the Bandung Sea of Fire Event! 

"Fire the Spirit of Unity and Patriotism!"

Sabtu, 04 Februari 2023

HARI KANKER SEDUNIA

ㅤㅤㅤㅤㅤ   Hari Kanker Sedunia
   
   Selamat memperingati Hari Kanker Sedunia!

   Hari Kanker Sedunia dirayakan setiap 4 Februari untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker dan mendorong pencegahan, deteksi, dan pengobatan kanker. Penyakit Kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita. Kanker atau tumor ganas bisa terjadi dimana saja dalam tubuh, bisa di paru-paru, otak, payudara, usus, prostat, kandungan, kulit bahkan didarah, dan bisa terkena pada perempuan dan laki-laki dengan usia yang paling sering diatas usia 40 tahun.

   Diketahui, kanker merupakan salah satu masalah kesehatan tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Sekitar 10 juta orang meninggal akibat kanker setiap tahunnya dan bahkan, 70 persen angka kematian akibat kanker terjadi pada negara berkembang atau Low Middle Income Countries (LMICs), salah satunya di Indonesia, itu mengapa setiap tanggal 4 Februari selalu diperingati sebagai hari kanker sedunia. Melansir situs UICC, Tema Hari Kanker Sedunia 2023 adalah 'Close the Care Gap' atau yang artinya 'Tutup Kesenjangan Perawatan'. Tema ini bermaksud bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat perubahan dan bersama komunitas kesehatan dapat membuat kemajuan nyata dalam mengurangi dampak global kanker.

   Tema 'Close the Care Gap' adalah tentang memahami dan mengenali ketidakadilan dalam perawatan kanker di seluruh dunia. Bersama tema ini, World Cancer Day juga mengusung Kampanye Hari Kanker Sedunia 2023 bertema 'Uniting our voices and taking action' artinya 'Menyatukan suara kami dan mengambil tindakan'.

   Selamat memperingati Hari Kanker Sedunia!

   Apapun yang terjadi, tetaplah bersyukur, jangan putus asa, dan selalu semangat! 




ㅤㅤㅤㅤㅤㅤWorld Cancer Day

   Congratulations on World Cancer Day!

   World Cancer Day is celebrated every 4 February to raise awareness of cancer and promote cancer prevention, detection and treatment. Cancer is a non-communicable disease characterized by the presence of abnormal cells/tissues that are malignant, grow quickly uncontrollably and can spread to other places in the patient's body. Cancer or malignant tumors can occur anywhere in the body, can be in the lungs, brain, breast, intestine, prostate, uterus, skin and even blood, and can be affected in women and men with the most common age over the age of 40 years.

   It is known, cancer is one of the highest health problems in the world and in Indonesia. About 10 million people die from cancer every year and in fact, 70 percent of deaths from cancer occur in developing countries or Low Middle Income Countries ( LMICs ), one of which is in Indonesia, that's why every February 4th is always celebrated as world cancer day. Launching the UICC website, the theme for World Cancer Day 2023 is ' Close the Care Gap' or which means 'Close the Care Gap'.

   This theme means that everyone has the ability to make a difference and together with the healthcare community can make real progress in reducing the global impact of cancer. The theme ' Close the Care Gap' is about understanding and recognizing the inequities in cancer care around the world. Together with this theme, World Cancer Day also carries the 2023 World Cancer Day Campaign with the theme ' Uniting our voices and taking action ' means 'Unifying our voices and taking action'.

   Congratulations on World Cancer Day! 

   Whatever happens, stay grateful, don't give up, and always keep spirit!


Rabu, 25 Januari 2023

HARI GIZI NASIONAL

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤHari Gizi Nasional

   Selamat memperingati hari gizi nasional! 

   Setiap tanggal 25 Januari, masyarakat Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional. Hari Gizi Nasional adalah sebuah momentum untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penerapan gizi seimbang guna meningkatkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Hari Gizi Nasional dirayakan untuk mengkampanyekan perjuangan menuju Indonesia sehat dan bebas dari kekurangan gizi kronis (stunting). Hari Gizi Nasional di peringati sejak tahun 1950 ketika dr. J. Leimena menjadi Menteri Kesehatan Indonesia.

   Dipilihnya tanggal 25 Januari adalah untuk memperingati dimulainya pengkaderan gizi. Dokter J Leimena adalah salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Ambon. Usai lulus pendidikan kedokteran di STOVIA Surabaya pada 1930, beliau melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta dan lulus padaa 1939. Sementara Prof. Poorwo Soedarmo adalah seorang profesor asal Malang lulusan Stovia pada 1927. Pemahaman mendalam akan ilmu gizi beliau dapatkan dari berbagai kampus, mulai dari London, Filipina, hingga Amerika Serikat. Prof. Poorwo Soedarmo banyak menerbitkan karya ilmiah termasuk Home Economics yang hingga kini dikenal sebagai Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Beliau pulalah yang menggagas konsep empat sehat, lima sempurna. Pada tahun 1969 Persatuan Ahli Gizi Indonesia mendapuk Prof Soedarmo sebagai Bapak Gizi Indonesia.

   Itulah sejarah awal tercetusnya Hari Gizi Nasional, Anda bisa meneruskan perjuangan Dokter J Leimena dan Prof. Poorwo Soedarmo dengan menjadi seorang ahli gizi. Saat LMR mendirikan “Sekolah Juru Penerang Makanan” pada 25 Januari 1951, maka tenaga penggiat gizi di Indonesia terus berkembang hingga menjamur ke banyak perguruan tinggi di Tanah Air. 

   Gizi seimbang, keluarga sehat, negara kuat! 






ㅤㅤㅤㅤㅤNational Nutrition Day

   Happy National Nutrition Day!

   Every January 25, Indonesian people commemorate National Nutrition Day. National Nutrition Day is a momentum to raise public awareness and concern for the importance of implementing balanced nutrition in order to improve the quality of better health. National Nutrition Day is celebrated to campaign for the struggle towards a healthy Indonesia and free from chronic malnutrition ( stunting ). National Nutrition Day has been commemorated since 1950 when dr. J. Leimena became Minister of Health of Indonesia.

   January 25 was chosen to commemorate the start of nutrition cadres . Doctor J Leimena is a national hero who comes from Ambon. After graduating from medical school at STOVIA Surabaya in 1930, he continued his education at Geneeskunde Hogeschool or Medical College in Jakarta and graduated in 1939. Meanwhile Prof. poorwo Soedarmo is a professor from Malang who graduated from Stovia in 1927. He gained in-depth understanding of nutrition from various campuses, from London, the Philippines, to the United States. Prof. poorwo Soedarmo published many scientific papers including Home Economics , which until now is known as the Science of Family Welfare. It was he who initiated the concept of four healthy, five perfect. In 1969 the Association of Indonesian Nutritionists appointed Prof. Soedarmo as the Father of Indonesian Nutrition. That was the early history of the birth of National Nutrition Day.

  You can continue the struggle of Dr. J Leimena and Prof. poorwo Soedarmo by becoming a nutritionist. When LMR established the "Food Lighting School" on January 25, 1951, nutrition activists in Indonesia continued to grow and mushroomed into many universities in the country.

   Balanced nutrition, healthy family, strong nation!